budaya-jawa

KRADENAN.COM – Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) mempermudah masyarakat untuk memperoleh pengetahuan dan hiburan. Dampak dari perkembangan iptek membuat persebaran informasi menjadi sangat cepat, sehingga mendorong terjadinya globalisasi di segala aspek. Globalisasi memberikan dampak yang signifikan baik dari segi positif maupun negatif.

Salah satu aspek yang paling mudah mendapatkan pengaruhnya adalah nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat. Derasnya arus globalisasi tanpa adanya filter akan merusak tatanan nilai dan perubahan gaya hidup seperti gaya hidup yang individualistik dan konsumtif. Banyak sekali masyarakat terutama para pemuda (generasi melenial) mulai meninggalkan ajaran-ajaran yang mengajarkan bagaimana manusia hidup dan bersosialisasi di dalam kehidupan bermasyarakat.

Dengan teknologi yang mumpuni generasi muda dibentuk menjadi pribadi yang serba instan dan modern. Di antara hal yang fundamental dari derasnya arus globalisasi adalah terkikisnya budaya-budaya lokal dan munculnya peradaban baru.

Terkikisnya budaya-budaya lokal akan mengakibatkan pada bangsa kehilangan sebuah identitas. Oleh karena itu dengan berpijak pada kaedah dalam usul fikih kita berusaha untuk menjaga eksistensi kearifan lokal:

الـمُحَافَظَةُ عَلٰى الْـقَدِيْـمِ الصَّالِحِ وَالْأَخْذُ بِالْـجَدِيْدِ الْاَصْلَـحِ

“Menjaga dan melestarikan tradisi lama yang relevan dan menginovasikan nilai-nilai baru yang lebih baik.”

Karena pada dasarnya, kearifan lokal dapat menentukan kualitas tindakan dan pijakan seseorang untuk pengembangan sebuah pendidikan yang universal. Kearifan lokal juga akan menampilkan sebuah dimensi pembelajaran yang selain memacu keilmuan, juga akan menjadikan perkembangan ilmu tidak tercerabut dari akarnya tradisi lokal, sekaligus bisa mendinamiskan keilmuan tersebut menjadi kontekstual dan ramah budaya daerah.

Budaya Jawa yang mengandung nilai-nilai luhur adalah bagian dari aset bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan agar menjadi simbol kebanggaan dan identitas bangsa Indonesia. Budaya Jawa dari zaman dahulu terkenal sebagai budaya yang adiluhung seperti etika dan sopan santun didalam rumah maupun diranah umum, bagaimana mengutarakan pendapat, berbicara kepada orang tua, berpakaian, makan, memperlakukan orang lain, semua itu telah ada dalam budaya Jawa.

Kearifan budaya jawa yang digali, dipoles, dikemas, dipelihara dan dilaksanakan dengan baik bisa berfungsi sebagai alternatif pedoman hidup manusia. Nilai-nilai itu dapat digunakan untuk filter nilai-nilai baru atau asing agar tidak bertentangan dengan kepribadian bangsa dan menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Sang Pencipta, sesamanya, dan alam sekitar.

Salah satu bentuk dari kearifan budaya jawa adalah Bahasa krama, baik krama ingil, madya maupun halus. Pemakaian Bahasa krama (jawa) sangat baik untuk berbicara dengan orang yang dihormati atau orang yang lebih tua. Bahasa jawa krama mengajarkan bersikap sopan dan menghormati orang yang lebih tua, selain itu juga mempererat dan mendinamiskan hubungan anak dengan keluarga. Bahasa jawa krama juga merupakan bentuk implementasi sabda Nabi SAW:

لَيْس مِنَّـا مَنْ لَـمْ يَـرْحَمْ صَغِيْـرَنَا وَلَمْ يُوَقِّـرْ كَبِيْرَنَا ( رواه ابو داود والترمذى)

“Tidak termasuk golangan umatku (Nabi Muhamad) orang yang tidak mencintai anak kecil dan tidak menghargai dan menghormati orang yang lebih tua”

Selain Bahasa Krama ada juga pribahasa yang sangat mengandung nilai adiluhung. Peribahasa adalah perkataan yang dikenal luas dan sering dipakai dengan menggambarkan kebenaran yang berbasis pada akal sehat dan pengalaman praktis yang bersifat manusiawi. Salah satunya adalah mengkaji dan memahami ungkapan peribahasa becik ketitik ala ketara.

Peribahasa Jawa merupakan perlambangan untuk menyampaikan pendidikan moral serta menjadi petunjuk dalam menuju kehidupan yang sejati seperti peribahasa berikut: “Becik Ketitik Ala Ketara” Kebaikan dan keburukan pasti kelihatan balasannya. Allah Swt Berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah atau seberat semut yang paling kecil niscaya ia akan mendapatkan balasan kebaikan pula. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah atau seberat semut yang paling kecil niscaya ia akan mendapatkan balasan kejahatan pula.” (Al-Zalzalah 7-8).

“Wong Urip Bakal Ngunduh Wohing Pakarti “ Setiap manusia akan mendapatkan balasan yang setimpal atas segala perbuatannya.

Nabi Saw Bersabda:

قال صلى الله عليه وسلم بِـرُّوْا أَبَـاءَكُـمْ تَـبِـرَّكُـمْ اَبْـنَـاؤُكُـمْ وَعِـفُّوا تَـعِـفَّ نِـسَاؤُكُـمْ

“Berbaktilah kalian kepada Ibu-Bapakmu, maka kelak anak-anakmu akan berbakti kepadamu, dan jagalah kehormatan dirimu maka istrimu pun akan menjaga kehormatan dirinya ” “Sabaya Pati Sabaya Mukti, galih seduluran, kerukunan nganthi tumekan pati“

Menjalin persaudaraan dengan rukun dan damai hingga akhir hayat. Nabi Saw Bersabda:

قال صلى الله عليه وسلم لَا يُـؤْمِنُ اَحَـدُكُـمْ حَتَّـى يُحِـبَّ لِأخِيْـهِ مَـا يُـحِبُّ لِـنَفْسِـهِ (متفق عليه)

“Tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya sepertihalnya ia mencintai dirinya sendiri“

“Ngudi Laku Utama Kanthi Sentasa Ing Budi”

Menghayati perilaku utama dengan berbudi pekerti luhur.

أكْـمَـلُ الْـمُؤْمِـنِـيَن إيـْمَـاناً أَحْسَنُـهُمْ خُـلُقاً ( راوه الترمذى)

“Orang mu’min yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik budi pekertinya”

Selain itu banyak sekali peribahasa jawa yang mengandung unsur falsafah yang sangat luas bahkan mampu meningkatkan integritas serta moralitas bangsa.

والله اعلم بالـصواب

Salam santun dari kami, Keluarga Besar DARUS
Sumber gambar: etnis.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *